header image
 

Ramadhan,hujan,,dan dia…

Tak terasa sudah lebih dari tiga hari

kita berada di bulan Ramadhan.

 

Kemarin sore Makassar hujan.. Hujannya
cukup mengguyur dan meninggalkan genangan-genangan air yang berusaha diserap
oleh tanah dan aspal jalan…

 

Ramadhan dan hujan!

 

Saat saya mencium bau pasca hujan,, saya
mengingat suatu peristiwa kurang lebih 3 atau 4 tahun lalu…

 

Ramadhan, hujan,, dan dia…

 

Haha!

 

Tak terasa sudah selama itu..

 

Masih teringat dengan jelas kala saya dan
dia belum bisa dikatakan berada pada usia dewasa,,, dan bukan lagi pada usia
anak kecil. Maka yang dilakukan pun tercermin dari usia itu..

 

Masih teringat saat bulan Ramadhan,,,
setelah pulang tarawih, meneleponnya..

 

Masih teringat saat bulan Ramadhan,,,
setelah Makassar diguyur hujan, meneleponnya..

 

Hahaha…

 

Dan meneleponnya di wartel pula!

 

Dan alasanku ketika ditanya mau ngapain
di wartel: “mau tanya tugas sama temanku,, panjang bela… Jadi janganmi di
rumah!” Haha.. Dongo… Harap maklum, waktu itu tarif nelpon dari HP masih bisa
dikatakan mahal.. Dan SMSan pun kurang seru bagi kami berdua… Haha!

 

Aneh rasanya mengingat saat itu..

 

Hal yang dilakukan setelah pulang
tarawih,,, langsung bergegas ke wartel samping rumah, dan men-dial sebuah nomor
rumah..

 

Lalu dengan nafas tersengal-sengal suara
di seberang sana menyapa dengan suara khasnya: “Assalamu’alaikum…”! Setelah
ditanya kenapa tersengal-sengal, dia menjawab: “Baru saja pulang tarawih..”…
Haha! Baru saja pulang tarawih langsung ada telepon dari saya.. Betapa kurang
kerjaannya diriku ini,,,

 

Begitupun dengannya.

 

Sebelum tarawih menelepon rumahku.. Dan
pada saat itu suaraku bisik-bisik ndak jelas,,, yang menandakan saya sedang
berbicara dengan “seseorang”. Kemudian ketika ada orang yang lewat di depanku,,
maka saya berkata padanya: “Sebentar pi lagi saya yang telepon ki… Diliat-liati
ma’ Maceku!”.. Hahaha…

 

Tak ada kata cinta yang begitu sering
diucapkan oleh kami berdua. Karena,, kami masih malu-malu… Haha! Konyolnya deh
malu-malu ndak penting itu..

 

Karena waktu itu bulan Ramadhan,,, maka
pembahasannya seputar puasa dan bacaan Al Qur’an! Haaah,, dirimu memang banyak
mengajarkan agama padaku waktu itu… Orang pertama yang perlahan tapi pasti
membuatku rajin sholat! Yupz.. Dia yang buat ka rajin sholat… Karena tidak
pernah sekalipun saat menelepon dia lupa menanyakan: “Sudah mki sholat?”..
Betapa beruntungnya diriku pada waktu itu memilikimu…

 

Dan, sekarang saya masih berusaha menjaga
ajaranmu.

 

Kini kita sudah tak bersama. Aku tak tahu
kau sudah punya seseorang atau tidak.. Karena setiap kali aku bertanya akan hal
itu,,, kau akan menjawab: “Saya tunggu ki!”.. Hahaha… Padahal kata
teman-temanku kau sudah punya seseorang yang menyayangimu, dan pasti sayangnya
jauh lebih besar dariku,, karena jujur waktu itu saya belum mengerti sepenuhnya
arti menyayangi… Maka sayang yang saya berikan kepadamu hanya lebih sedikit
dari sayangku kepada teman-temanku! Tidak lebih banyak.. Maafkanku…

 

Bagaimanapun, kau telah memberikan satu
warna pada hidupku di kala itu.. Telah membuatku bahagia punya seseorang yang
melindungiku dengan caramu sendiri…

 

Terima kasih.

 

Mari kita menjalani hidup kita sendiri-sendiri..

 

Kau dengan hidupmu,,, dan begitupun
denganku.

 

Pada saat itu,, berakhir
sudahlah “kita”…

~ by dh3wh1e on September 3, 2008.

Leave a Reply